29 Desember 2008

Seberapa Pantas Berharap Surga ?


Renungan Tahun Baru Hijriyah
1 Muharram 1430 H / 29 Desember 2008 M

Sholat dhuha cuma 2 rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, rasanya teramat berat.
Sholat lima waktu? Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek pula. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah. Dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?!

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap .... Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas ... menuju sumber panggilan, .... kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh ... di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur'an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar. Padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah .... ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka ... untuk meredam getar saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam .... dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah .... bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah ... dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infaq. Kalau pun ada, itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudahlah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan … kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, .... ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel. Setiap melihat keberhasilan orang lain, berharap orang tersebut celaka ... atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya .... kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun ... selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua-lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu-lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat ... masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu... hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.!

Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua ....
Ketika Iedul Fitri yang baru berlalu ....???Apakah hari itu .... hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna .........???Apakah siang harinya .... kita sudah mengantuk .... dan akhirnya tertidur lelap ...? Apakah kita merasa sulit untuk meneteskan air mata ...??? atau bahkan kita menganggap cengeng diri kita ......??? Sampai sekeras itukah hati kita ....???

Ya ... Allah .... Ya Rabbi ...... jangan Kau palingkan hati kami menjadi hati yg keras sehingga meneteskan air matapun susah ....... merasa bersih ...... merasa suci .... merasa tak bersalah ...... merasa tak butuh orang lain ...... merasa modernis ..... dan visionis ......... Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan ..... terlukis bayang hampa tanpa makna ..... dan kebahagiaan semu penuh ragu .....
Astaghfirullaah ......Yaa Allah...ampunilah segenap khilaf kami. Aamiin

21 Desember 2008

Beckham Berpetualang Ke AC Milan

"Aku akan bermain bagi salah satu klub terbesar di dunia dan mengenakan kostum Inggris pada saat yang bersamaan, sebuah kehormatan bagi pemain manapun."

"Saya sangat tersanjung bisa berada di sini dan bermain dengan salah satu klub tersukses di dunia."

"Petualangan ini memberiku motivasi luar biasa. Milan jelas merupakan tim hebat, lebih baik dari yang lain. Setelah bermain di tim terbaik di Inggris dan Spanyol, aku bermain di tim terbaik Italia. Tujuanku adalah berlatih keras dan memberikan kontribusiku pada tim."

"Saya bermain di klub terbesar Inggris, Spanyol dan saya sekarang bergabung dengan klub terbesar di Italia. Di sana banyak pemain yang hebat. Ini adalah klub yang luar biasa."

"Dia sangatlah profesional dan kami semua menyambutnya. Klub dan juga para pemain. Dia bisa bermain di manapun di tengah lapangan. Semua orang menyebut tendangan bebasnya, tapi hal terpenting adalah cara dia berlatih," Don Carletto.

"Pokok'e mak nyuusss lahh ..." Mahenwa.

17 Desember 2008

Mouse Terkecil di Dunia


DetikInet ~ Senin, 15/12/2008 12:11 wib

London - Perangkat mouse komputer yang diklaim terkecil di dunia telah dirilis. Mouse bernama Z-Nano ini memang amat mungil bentuknya jika dibandingkan dengan mouse standar. Betapa tidak? Ukuran Z-Nano -- nama mouse tersebut -- hanyalah 42x21x17,65 mm saja.
Berarti ukuran ini hampir sama dengan ujung jari manusia yang mengendalikannya. Dikutip detikINET dari TechRadar, Senin (15/12/2008), mouse liliput tersebut dibekali fungsi yang sama seperti mouse komputer pada umumnya. Ada fungsi scroll, optical tracking dan juga dilengkapi dengan indikator cahaya LED.
Meski demikian, terdapat beberapa penyesuaian tombol mengingat kecilnya bentuk Z-Nano. Seperti tombol klik kiri terletak di bagian depan dan tombol untuk klik kanan dipasang di belakangnya. Sementara tombol untuk melakukan scroll ke atas dan bawah juga sangat mungil ukurannya. Adapun konektivitasnya mengandalkan USB.Z-Nano telah dipasarkan di berbagai situs internet dengan harga mencapai US$ 60.
Namun meski produk ini cukup unik, beberapa pihak mempertanyakan apakah Z-Nano nyaman digunakan atau malah membuat penggunanya kerepotan.

13 Desember 2008

Bad Boys

Namanya juga anak-anak ...

ANAK ULTAH (SWEET SEVENTEEN)
Seorang anak bertanya pada Mamanya.
"Ma, sweet 17-ku nanti boleh bikin pesta di rumah nggak?". Yah, kapan lagi anakku bisa pesta sweet seventeen, "Boleh… boleh… biar nanti Mama siapkan". Anak itu kembali bertanya, "Ma … boleh ngundang temen2 nggak?". Yahh, kapan lagi dia bisa kumpul sama teman2nya, "Boleh, nanti Mama urus undangannya". Anak itu bertanya lagi, "Ma, ma .. boleh pake baju baru nggak?". Hanya sekali ini, "Tentu, boleh … nanti Mama belikan".
Pada hari ulang tahun ke 17 itu, pesta sudah dirayakan. Teman2nya sudah datang, anak itu memakai baju baru dan kembali bertanya sama Mamanya. "Ma … boleh pakai lipstick nggak?". "Gak boleh!" kata sang Mama. "Ah .. Mama, ini kan cuman terjadi sekali dalam hidup, masa pakai lipstick aja gak boleh .." rengek anaknya. "Enggak! Pokoknya kamu boleh bikin pesta, kamu boleh ngundang temen2, kamu boleh pakai baju baru, tapi kamu gak boleh pakai lipstick". "Boleh dong Ma .., please ...", rengek anaknya lagi. "BAMBANG … !!!!! Kali ini Mama tidak ada kompromi ... TIDAK BOLEH..!!!", demikian sang Mama meneriakkan ultimatum terakhirnya.

AKAL ANAK
Bu tutik menyesali anak sulungnya yang membiarkan adiknya makan obat nyamuk yang berakibat fatal. Dengan terisak dia bilang pada anak sulungnya itu. Bu Tutik: "Kenapa kalau tahu adikmu makan obat nyamuk kamu biarkan saja?" Anak: "Kalau kucegah kan minta roti yang lagi kumakan!"
Bu Tutik: "??!.,0876%???//!!” (Bu Tutik marah sampai mendidih 150oC)

ANAK PINTAR
Sang ibu sedang menasehati anaknya...
Ibu: "Bagaimanapun pekerjaan mengintip itu tidak baik, coba gara-gara mengintip sampai terjadi pembunuhan, celaka kan!" Anak: "Bagaimana kalau aku mengintip Bapak sedang pacaran dengan perempuan lain kemudian kulaporkan pada ibu?" Ibu: "Oh, kalau itu suatu pengecualian Nak".

ANAK CERDAS
Murid: Pak, apakah orang boleh dihukum untuk sesuatu yang belum diperbuatnya? Guru: Oh, tentu saja tidak. Orang hanya boleh dihukum untuk perbuatan yang telah dilakukannya. Murid: Syukurlah, Pak. Saya belum membuat PR...

ANAK LUGU
Seorang pembina pramuka bertanya kepada anak didiknya. "Kandar, apa yang kau lakukan pertama kali jika melihat temanmu digigit ular pada bagian kakinya?", "Pertama-tama saya akan bersyukur bahwa ular itu bukan menggigit kaki saya. Kedua, saya akan panggil kakak pembina untuk menanyakan, apa yang sebaiknya saya lakukan ..??!!!"

ANAK USIL
Siang itu tidak seperti biasanya Kiki pulang lebih cepat dari tempat kerjanya. Ketika melewati sebuah rumah ia melihat seorang anak kecil yang sedang berjingkat-jingkat hendak memencet bel. Merasa kasihan, Kiki pun segera membantu anak kecil itu menekan tombol bel. "Terima kasih, Mas" ucap anak kecil itu sambil berlari. "Lho, lho .." tentu saja Kiki kebingungan. "Cepat lari Mas, sebelum yang punya rumah keluar ..," ucap anak itu lagi. Sadarlah Kiki ternyata ia sudah kena perangkap anak kecil nakal itu.

ANAK ISENG
Pada saat pelajaran berlangsung seorang siswa berceletuk pada gurunya, "Pak celana bapak bolong tuh pak !" Kontan aja si Pak Guru terkejut, sambil ngliat-ngliat belakang celananya. Setelah diperiksa kok kayaknya nggak ada yang bolong tuh. Si Pak Guru menghampiri si murid tadi. "Eh, kamu bohong yach sama saya!", bisik Pak Guru. Si murid balas ngebisikin tuh guru, "Kagak kok Pak, emang celana bapak tuh bolong. Kalau kagak bolong mana bisa dipakai ?" Guru: ?????

ANAK JUJUR
Pada suatu malam ada seorang anak yang tertangkap basah sedang mencuri mangga tetangga. Bapak: "Kamu masih kecil udah berani mencuri mangga ... dasar anak kurang ajar kamu!" Anak: "Biarin aja!" Bapak: "Eh kamu dibilangin udah berani ngelawan ya .. entar aku laporin sama bapak kamu baru tau rasa!" Anak: "Laporin aja saya enggak takut kok!" Bapak: "Oke ... jadi begitu ya ... Dimana sekarang Bapak kamu?" Anak: "Itu diatas!"

ANAK BERBAKTI
"Bu, kapan Ibu ulang tahun?", "Bulan depan, Anakku. Kenapa kau menanyakan itu?" tanya ibunya heran. "Pada saat Ibu berulang tahun nanti, saya akan menghadiahkan Ibu tas baru", "Oh .. tidak usah, Nak. Ibu sudah punya tas kok", "Tapi, Bu, sekarang tas Ibu sudah hilang. Kemarin waktu saya bawa bermain, nyemplung ke sungai."

IBUNYA ANAK
Si Tina (umur 8 thn) di suruh ibunya menjaga adiknya yang sedang bermain, karena ibunya sedang memasak. Ketika sedang bermain, si bayi makan koran hampir habis 1 halaman. Tentu saja si Tina kaget. Tina: "Ibu si Adik makan koran sampe mau habis !". Ibu: "Appaaaa?, dengan kagetnya sambil berlari dan merebut sisa koran yang ada. Dengan tenangnya si ibu menjawab, "Nggak apa-apa kok itu koran bekas, kirain koran yang baru ibu beli".

BAPAKNYA ANAK
Dodo sepulang dari sekolah cerita pada babenya yang kagak pernah makan bangku sekolah. "Be .. tadi aye dimarahin ama pak guru.", "Emang loe salah ape Do?" "Tadi aye kagak bisa jawab pertanyaan pak guru.", "Emang loe ditanye ape..?", "Pak guru tanye, dimana letaknya washington?", "Mangkenye Do, laen kali kalo' loe ngeletakin sesuatu jangan ampe lupe letaknye."

Indo Vs English

Begini neeh, gaya orang indo yang sok ke-inggris-an ... ;D)

Job Interview
HRD: Nama saudara siapa? Pelamar: Prawoto pak ... HRD: Coba ceritakan tentang keluarga saudara.!! Pelamar: Saya 2 bersaudara, adik saya masih kuliah di Jogya.. Orang Tua saya tinggal di Surabaya. Kakek dan nenek dari Bapak tinggal di Solo.. Kakek dan nenek dari Ibu tinggal di Semarang.. Paman dan Pakde semua tinggal di Tegal. HRD: Apakah saudara dapat berbahasa inggris? Pelamar: Yes .. sir ... HRD: Now tell me about your family in English!!... Pelamar: Sorry sir .. I don't have family in English ..., they're all living in Indonesia.!

Which Part?
Teacher: "Where were u born?"
Student: "Singapore, Sir."
Teacher: "Which part?"
Student: "All of me, Sir."

Crispy Class
A teacher was asking her class: "What is the difference between 'unlawful' and 'illegal'?"Only one hand shot up. "Ok, answer, Joan" said the teacher. "unlawful" is when u do something the law doesn't allow and "ill-egal" is a sick eagle."

Bad News and Very Bad News
Doctor: I have some bad news and some very bad news. Patient: Well, might as well give me the bad news first. Doctor: The lab called with your test results. They said you have 24 hours to live. Patient: 24 hours! That's terrible!! What could be worse? What's the very bad news? Doctor: I've been trying to reach you since yesterday.!!!

Tooth Extraction
Patient : How much to have this tooth pulled?
Dentist : $90.00.
Patient : $90.00 for just a few minutes work???
Dentist : I can extract it very slowly if you like.

Nubruk Bule
Seorang cewek yang bahasa Inggrisnya kacau-balau suatu hari nubruk seorang bule ketika jalan-jalan di mall.
Cewek : "I'm sorry."
Bule : "I'm sorry, too."
Si cewek bingung. Doi ngerasa harus ngejawab tuh bule.
Cewek : "I'm sorry, three."
Bule : "What are you sorry for?"
Cewek : "I'm sorry, five."

Mencari Pekerjaan
Di sebuah iklan lowongan kerja...
- Anda lulusan SMA/STM?
- Anda punya keahlian?
- Punya ijasah keterampilan?
- Ahli bahasa Inggris?
- Tapi sampai sekarang belum bekerja?
CARI KERJA DONG…!!!

07 Desember 2008

TUHAN SAYANG DENGAN KITA

Dari seorang kawan.
Matur Suwun mas Deky "DQ" Werdoko.

Hari senin kemarin, saya mendapat pengalaman di jalan raya waktu berangkat kerja. Sebuah pengalaman yang mengingatkan saya atas pengalaman tahun–tahun sebelumnya.Seperti biasa hari senin, pengendara kendaraan bermotor lebih tampak sibuk dari hari yang lain. Demikian juga di kota Batam, kota dimana Tuhan memberikan rejeki kepada kami sekeluarga saat ini.

Melewati jalan utama di depan setasiun bahan bakar Sukajadi beberapa polisi memberi aba-aba kendaraan supaya lebih memperlambat jalan, dan ini ternyata sangat berguna kalau kita mengikuti aba-aba tersebut, tetapi kebanyakan kendaraan akan menaikan kecepatan lagi setelah melewati polisi tersebut walau di depan kantor Poltabes Barelang sendiri. Pagi itu, tepat di depan kantor polisi, setelah mengurangi kecepatan, saya sempat menengok ke kanan, dan sangat terkejut ketika mobil di depan saya berhenti mendadak, reflek saya menginjak rem dan beruntung berhenti hanya kira-kira setengah meter dari mobil di depan saya, lihat di spion, mobil di belakang juga melakukan hal yang sama.

Suara berdebam terdengar di depan, tapi saya hanya bisa terduduk lemas, dalam hitungan detik semuanya bisa terjadi, dengan muka pucat pengemudi depan saya menengok kearah saya dengan pandangan bingung juga. Beberapa polisi langsung sibuk mengatur jalan yang langsung macet, karena memang itu jalan utama. Begitu mengambil jalur kiri, saya terhenyak, posisi mobil saya hanya selisih dua mobil dari mobil terakhir yang mengalami tabrakan beruntun.

Sambil melewati deretan mobil yang tabrakan, ada lima atau enam mobil dengan kerusakan cukup parah, saya berucap lirih, Tuhan masih sayang saya. Tapi saya kemudian malu sendiri dengan ucapan itu, menyadari betapa piciknya saya, kalau saya hanya berucap seperti itu dalam posisi saya merasa diuntungkan.

Tuhan masih sayang sama saya, kata–kata itu terngiang di telinga saya, dan pikiran saya kembali ke pengalaman saya bertahun–tahun lalu tahun 1999, di selatan pulau Sumatera. Saya kenal dengan seorang bapak yang berumur 40-an, badannya gempal dengan kulit hitam legam. Maklum pekerjaannya adalah kuli panggul. Sering saya ngobrol sama beliau, berdua di warung minum kecil dekat terminal 7 Ulu Palembang. Beliau orang lampung yang mencoba mencari nafkah di kota itu.

Karena keseringan ngobrol, suatu saat beliau mengajak saya berkunjung ke tempat tinggal beliau, di pelantar–pelantar pinggiran sungai musi. Tempat tinggal yang sangat jauh dari layak, dengan dinding yang lapuk dan lantai kayu yang siap ambruk. “hati–hati mas lantainya lapuk, makanya tadi saya ingatkan jangan makan banyak-banyak sebelum main ke tempat saya,” si bapak mengingatkan saya sambil tertawa, tawa yang selalu terlihat lepas dan penuh syukur. Saya hanya tersenyum, sambil tetap berhati-hati melangkah.

Terdengar suara langkah kaki dua orang anak kecil muncul dari balik gorden yang lusuh, langsung mencium tangan bapaknya. Saya sempat terhenyak, bukan karena dua anak laki–laki itu tampak khusuk dalam mencium tangan orang tuanya, tapi saya melihat mereka berdua ada kelainan pada kakinya, POLIO.! Mereka kemudian mencium tangan saya juga, saya sempat mengelus kepala anak yang paling kecil, dengan perasaan terharu.

Suara batuk dari balik gorden membuat saya berpaling, dan si bapak dengan masih tersenyum bangun dan minta ijin sama saya. “Mas sebentar saya tinggal. Saya mau nyuapin istri saya dulu, sedang sakit,” kata beliau. Saya mengiyakan dan kemudian asyik ngobrol dengan dua anak lelaki beliau.

Selang setengah jam kemudian, beliau keluar lagi dan minta maaf kalau saya terlalu lama menunggu. “Oh tidak apa–apa Pak, memang ibu sakit apa, sudah ke dokter belum,” tanya saya. Si bapak tersenyum mendengar pertanyaan saya. “Istri saya sakit TBC mas, sudah lama, lebih dari sepuluh tahun. Sudah dua tahun ini tambah parah, tapi syukur saya masih diberi kekuatan untuk menemaninya,” kata beliau. Dalam hati saya, betapa bapak ini sangat susah, dua anak yang punya kelainan pada kakinya ditambah istri yang terbaring sakit, belia harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup, tapi juga harus melayani keperluan istrinya yang sakit.

“Maaf Pak, saya salut karena bapak bisa menjalani semua kesusahan ini,” kata saya terharu. Tetapi beliau menjawab dengan tertawa, "Maaf mas, saya tidak merasa susah, saya bahagia, bersyukur sama Tuhan, di kasih istri, di kasih keturunan, dikasih pekerjaan". Saya hanya diam, terharu saya melihat cara bapak itu berbicara, nampak ikhlas. Lebih diam lagi, ketika beliau melanjutkan kata–katanya,” Kalau mas lihat saya akan susah karena kondisi istri saya ataupun anak saya, kerja saya sebagai kuli panggul, itu tidak membuat saya merasa susah, tetapi saya bahagia, karena saya semakin sadar, bahwa Tuhan sayang sama saya”.

Wajah ikhlas itu semakin ikhlas ketika mengucapkan kata–kata, Tuhan sayang sama saya. Seluruh panca indera saya terasa segar, saya seperti melihat surga di lelaki depan saya. Ketika dengan sungkan beliau menawari saya, apakah saya mau dibikinin teh, karena beliau takut saya tersinggung karena di rumah itu ada orang sakit TBC. Saya menjawab tidak keberatan, dan ketika teh itu datang di depan saya, saya segera meminumnya dengan rasa syukur, betapa bahagianya saya hari itu, meminum teh yang sangat penuh rahmat, dari rejeki yang halal, dibikin oleh lelaki yang penuh rahmat, ini rejeki yang tidak bisa dinilai.

Tuhan sayang sama kita. Ketika putra kami yang kedua, Rangga, yang baru lahir dua bulan lalu harus masuk rumah sakit, saya lihat istri saya nampak tertekan. Saya maklum akan hal itu, karena sebagai ibu ikatan batin yang kuat membuatnya sangat terpukul. Melihat putra kami yang mungil terbaring di kotak penyinaran, membuat istri saya sering menangis. Sering sambil menangis dia berkata, "kenapa harus anakku, Tuhan tidak adil, aku sudah merawatnya dari dia di kandungan, aku sayang sama dia".

Saya di sampingnya selalu mencoba menyabarkan, bahwa ini yang terbaik buat kita, tidak baik kita menganggap Tuhan tidak adil terhadap kita. Kesedihan istri saya sedikit terobati, begitu di rumah sakit berkenalan dengan banyak ibu-ibu yang juga menunggu anaknya yang sakit, dan lumrahnya manusia, kesedihan akan berkurang ketika kita sadar bahwa bukan kita saja yang mengalami.

Keluar dari rumah sakit, kami bersyukur anak kami bertambah sehat, berkembang dan semakin lucu. Tetangga kami, pasangan suami istri, pensiunan sebuah Bank Pemerintah di Jakarta, menanyakan kabar anak kami. Kami jawab sudah sembuh, dan makin sehat. “Syukurlah, itu rencana Tuhan, kita percaya sama yang di atas bahwa itu yang terbaik buat kita, tidak usah takut bahwa nantinya akan ada sesuatu dengan anak kita,” kata si ibu.

Beliau kemudian bercerita bahwa anak pertamanya premature, masuk rumah sakit beberapa kali, di vonis ada kelainan, tetapi yang beliau lakukan hanyalah lakukan yang terbaik buat anak dan percaya bahwa Tuhan sayang kepada kita. Pada perkembangannya, beliau cerita bahwa anaknya normal, bahkan paling pintar dari empat putranya, bisa menempuh pendidikan tinggi, jauh dari perkiraan dokter bahwa ada kelainan saat besarnya nanti. Saya melihat wajah istri saya tenang ketika mendengar si ibu bercerita. Dan setelah itu saya berkata, "jalani hidup ini dengan tenang, percaya bahwa ini yang terbaik dari Tuhan".

Tuhan sayang dengan kita. Betapa piciknya kalau kita hanya merasa itu kalau kita merasa senang atau diuntungkan dalam hidup ini. Seharusnya kita sadar betapa sayangnya Tuhan terhadap kita, sampai–sampai selalu membuka pintu taubat terhadap kesalahan kita. Padahal dengan kekuasanNya, apa yang tidak bisa Tuhan perbuat. Berbahagialah manusia yang dalam setiap tarikan nafasnya dalam situasi apapun selalu ingat bahwa Tuhan sayang dengan kita.

Jadi, sudahkah kita hari ini ketika bangun dari tidur merasa bahwa Tuhan masih sayang dengan kita, dengan memberi kita kesempatan untuk hidup. Setelah itu kita sarapan sebelum aktifitas hari ini, apakah kita sudah merasa Tuhan sayang dengan kita, dengan memberi kita kesempatan untuk makan pagi. Kita berangkat kerja pagi ini, sudahkah kita merasa Tuhan sayang dengan kita, dengan memberi kita kesempatan untuk bekerja mencari nafkah. Senyum istri kita, lambaian tangan anak kita, tawa teman sekerja, udara yang kita hirup, kesehatan yang kita dapat, dan masih banyak lagi hari ini yang kita dapat dari Tuhan.

Jadi, apakah anda setuju bahwa Tuhan masih sayang dengan kita, dalam kondisi apapun, itulah yang terbaik buat kita, betapa murah hatiNya memberi kita kesempatan. Betapa sayangnya Tuhan terhadap kita, bahkan perintah Tuhan bukan untuk kebaikanNya, tapi untuk kebaikan manusia itu sendiri. Masihkah kita merasa hidup ini tidak adil?

Terima kasih, sampaikan salam saya untuk keluarga terkasih anda, dimana Tuhan menitipkankan sayangNya untuk anda melaui mereka.

Rgds,
DQ - pejuang pemikir, pemikir pejuang

04 Desember 2008

TENZING NORGAY


Tenzing Norgay adalah nama orang (sebelah kanan foto). Mungkin buat kebanyakan dari kita akan mengatakan nama yang aneh, dan ..... dari negara mana nama tersebut berasal?....

Mungkin Anda pernah membaca atau mendengar namanya... mungkin juga belum... Bagaimana kalau kita sebut nama Sir Edmund Hillary.? Ya kalau yang ini sih kita sering dengar atau pernah baca biografinya atau pernah mendapatkan kisah hidupnya dalam sebuah artikel atau sewaktu mengikuti seminar.

Ya, Sir Edmund Hillary adalah orang pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi dunia Puncak Gunung Everest. Tetapi saat ini bukan Sir Edmund Hillary yang akan kita bahas, tetapi Tenzing Norgay. Dia adalah seorang penduduk asli Nepal yang bertugas sebagai pemandu (orang nepal menyebutnya Sherpa) bagi para pendaki gunung yang berniat untuk mendaki gunung Everest. Tenzing Norgay lah yang menjadi pemandu Sir Edmund Hillary.
Pada tanggal 29 Mei 1953 Pukul 11.30, Tenzing Norgay bersama dengan Sir Edmund Hillary berhasil “menaklukkan” Puncak Gunung Tertinggi Everest pada ketinggian 29,028 kaki diatas permukaan laut dan menjadi orang pertama didunia yang kemudian menjadi inspirasi dan penyemangat bagi ratusan pendaki berikutnya untuk mengikuti prestasi mereka. Pada rentang waktu tahun 1920 sampai dengan tahun 1952, tujuh tim ekspedisi yang berusaha menaklukkan Everest mengalami kegagalan.
Keberhasilan Sir Edmund Hillary pada saat itu sangat fenomenal mengingat baru berakhirnya Perang Dunia II dan menjadi semacam inspirator untuk mengembalikan kepercayaan diri bagi seluruh bangsa di dunia. Karena keberhasilannya, Sir Edmund Hillary mendapatkan gelar kebangsawanan dari Ratu Inggris yang baru saja dilantik saat itu Ratu Elizabeth II dan menjadi orang yang paling dikenal di seluruh dunia.
Tetapi dibalik keberhasilan itu, Tenzing Norgay memiliki peran yang sangat besar, mengapa Tenzing Norgay tidak menjadi terkenal dan mendapatkan semua yang didapatkan oleh Sir Edmund Hillary padahal ia adalah sang pemandu yang membantu dan mengantarkannya mencapai Puncuk Mount Everest? Seharusnya bisa saja ia lah orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak Mount Everest bukan Sir Edmund Hillary.

Sesaat setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :

Reporter : Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?
Tenzing Norgay : Sangat senang sekali.
Reporter : Anda kan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia. Bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest ?
Tenzing Norgay : Ya, benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia.
Reporter : Mengapa Anda lakukan itu???
Tenzing Norgay : Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya..... impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIANnya.

Ya, itulah sekelumit kisah tentang seorang pemandu pendaki bernama Tenzing Norgay. Ia tidak menjadi serakah, ataupun iri dengan keberhasilan, nama besar dan semua penghargaan yang diperoleh Sir Edmund Hillary. Ia cukup bangga dapat membantu orang lain mencapai & mewujudkan impiannya.

Dalam kehidupan sehari-hari atau dalam dunia kerja kita secara pribadi terbiasa atau terkondisikan untuk fokus kepada diri kita sendiri, siapa yang mendapat nama, apa yang kita dapatkan, bonus, penghargaan, insentif dan sebagainya. Sebagai renungan "Bisakah kita menjadi seperti Tenzing Norgay?" ...... Sebenarnya bukan Bisa atau Tidak...tapi MAU atau TIDAK!
Konon foto diatas adalah foto satu-satunya yang diambil oleh sang reporter.
Bagaimana menurut Anda?


From "life with love" ~ http://eaglesspirit.blogspot.com/

Jadwal Liga Italia Seri A 2008/2009

Pekan 1 & Pekan 20 (31/8/08 - 25/1/09)
Atalanta - Siena
Cagliari - Lazio
Catania - Genoa
Chievo - Reggina
Fiorentina - Juventus
Milan - Bologna
Roma - Napoli
Sampdoria - Inter
Torino - Lecce
Udinese - Palermo

Pekan 2 & Pekan 21 (14/9/08 - 28/1/09)
Bologna - Atalanta
Genoa - Milan
Inter - Catania
Juventus - Udinese
Lazio - Sampdoria
Lecce - Chievo
Napoli - Fiorentina
Palermo - Roma
Reggina - Torino
Siena - Cagliari

Pekan 3 & Pekan 22 (21/9/08 - 1/2/09)
Cagliari - Juventus
Catania - Atalanta
Fiorentina - Bologna
Lecce - Siena
Milan - Lazio
Palermo - Genoa
Roma - Reggina
Sampdoria - Chievo
Torino - Inter
Udinese - Napoli

Pekan 4 & Pekan 23 (24/9/08 - 8/2/09)
Atalanta - Cagliari
Bologna - Udinese
Chievo - Torino
Genoa - Roma
Inter - Lecce
Juventus - Catania
Lazio - Fiorentina
Napoli - Palermo
Reggina - Milan
Siena - Sampdoria

Pekan 5 & Pekan 24 (28/9/08 - 15/2/09)
Bologna - Napoli
Catania - Chievo
Fiorentina - Genoa
Lecce - Cagliari
Milan - Inter
Palermo - Reggina
Roma - Atalanta
Sampdoria - Juventus
Torino - Lazio
Udinese - Siena

Pekan 6 & Pekan 25 (5/10/08 - 22/2/09)
Atalanta - Sampdoria
Cagliari - Milan
Chievo - Fiorentina
Genoa - Napoli
Inter - Bologna
Juventus - Palermo
Lazio - Lecce
Reggina - Catania
Siena - Roma
Udinese - Torino

Pekan 7 & Pekan 26 (19/10/08 - 1/3/09)
Bologna - Lazio
Catania - Palermo
Chievo - Atalanta
Fiorentina - Reggina
Genoa - Siena
Lecce - Udinese
Milan - Sampdoria
Napoli - Juventus
Roma - Inter
Torino - Cagliari

Pekan 8 & Pekan 27 (26/10/08 - 8/3/09)
Atalanta - Milan
Cagliari - Chievo
Inter - Genoa
Juventus - Torino
Lazio - Napoli
Palermo - Fiorentina
Reggina - Lecce
Sampdoria - Bologna
Siena - Catania
Udinese - Roma

Pekan 9 & Pekan 28 (29/10/08 - 15/3/09)
Bologna - Juventus
Catania - Udinese
Chievo - Lazio
Fiorentina - Inter
Genoa - Cagliari
Lecce - Palermo
Milan - Siena
Napoli - Reggina
Roma - Sampdoria
Torino - Atalanta

Pekan 10 & Pekan 29 (2/11/08 - 22/3/09)
Atalanta - Lecce
Cagliari - Bologna
Juventus - Roma
Lazio - Catania
Milan - Napoli
Palermo - Chievo
Reggina - Inter
Sampdoria - Torino
Siena - Fiorentina
Udinese - Genoa

Pekan 11 & Pekan 30 (9/11/08 - 5/4/09)
Bologna - Roma
Catania - Cagliari
Chievo - Juventus
Fiorentina - Atalanta
Genoa - Reggina
Inter - Udinese
Lazio - Siena
Lecce - Milan
Napoli - Sampdoria
Torino - Palermo

Pekan 12 & Pekan 31 (16/11/08 - 11/4/09)
Atalanta - Napoli
Cagliari - Fiorentina
Catania - Torino
Juventus - Genoa
Milan - Chievo
Palermo - Inter
Roma - Lazio
Sampdoria - Lecce
Siena - Bologna
Udinese - Reggina

Pekan 13 & Pekan 32 (23/11/08 - 19/4/09)
Bologna - Palermo
Chievo - Siena
Fiorentina - Udinese
Inter - Juventus
Lazio - Genoa
Lecce - Roma
Napoli - Cagliari
Reggina - Atalanta
Sampdoria - Catania
Torino - Milan

Pekan 14 & Pekan 33 (30/11/08 - 26/4/09)
Atalanta - Lazio
Cagliari - Sampdoria
Catania - Lecce
Genoa - Bologna
Inter - Napoli
Juventus - Reggina
Palermo - Milan
Roma - Fiorentina
Siena - Torino
Udinese - Chievo

Pekan 15 & Pekan 34 (7/12/08 - 3/5/09)
Atalanta - Udinese
Cagliari - Palermo
Chievo - Roma
Lazio - Inter
Lecce - Juventus
Milan - Catania
Napoli - Siena
Reggina - Bologna
Sampdoria - Genoa
Torino - Fiorentina

Pekan 16 & Pekan 35 (14/12/08 - 10/5/09)
Bologna - Torino
Fiorentina - Catania
Genoa - Atalanta
Inter - Chievo
Juventus - Milan
Napoli - Lecce
Palermo - Siena
Reggina - Sampdoria
Roma - Cagliari
Udinese - Lazio

Pekan 17 & Pekan 36 (21/12/08 - 17/5/09)
Cagliari - Reggina
Catania - Roma
Chievo - Genoa
Lazio - Palermo
Lecce - Bologna
Milan - Udinese
Sampdoria - Fiorentina
Siena - Inter
Torino - Napoli

Pekan 18 & Pekan 37 (11/1/09 - 24/5/09)
Bologna - Chievo
Fiorentina - Lecce
Genoa - Torino
Inter - Cagliari
Juventus - Siena
Napoli - Catania
Palermo - Atalanta
Reggina - Lazio
Roma - Milan
Udinese - Sampdoria

Pekan 19 & Pekan 38 (18/1/09 - 31/5/09)
Atalanta - Inter
Cagliari - Udinese
Catania - Bologna
Chievo - Napoli
Lazio - Juventus
Lecce - Genoa
Milan - Fiorentina
Sampdoria - Palermo
Siena - Reggina
Torino - Roma

02 Desember 2008

ASALKAN ADA ABANG ...

eramuslim - Hmmm… kupandangi Al Quran bersampul kuning keemasan itu. Warnanya tak pudar walaupun telah sepuluh tahun ia tinggal di rak buku ruang tamuku. Lembarannya tak cacat sedikitpun walau sering kubaca. Dan satu kali dalam satu tahun aku memandangi takjub maharku itu seperti ini...

Suamiku baru saja pulang kerja. Dia tampak lelah. Kusiapkan air hangat untuknya sore ini. Makanan dan minuman kesukaannya telah kuhidangkan di meja makan lebih awal. Sprei tempat tidur telah kuganti. Kordin telah kucuci dan kupasang lagi. Seluruh bagian rumah telah kubersihkan.

"Kok senyum aja sih dari tadi?" suamiku menegurku. Aku hanya bisa tertawa kecil. "Nggak pa pa. Pingin sedekah aja. He he..." Suamiku membalas seyumanku dan pergi mandi. Saat ditutup, kuamati pintu kamar mandi itu... dan sekeliling rumah ini. Rumah kontrakan penuh kenangan. Sebentar lagi rumah ini akan menjadi milik kami karena pemilik sebenarnya akan pindah ke luar kota dan menjualnya pada kami. Suamiku pun bekerja lembur akhir-akhir ini untuk melunasinya.

Malam ini aku dan suamiku menikmati makan malam sebelum isya. Kebetulan anak-anak sedang liburan di rumah neneknya. Rumah jadi terasa sepi. Terdengar suara motor berderu melewati rumah kami sekali waktu. Terdengar pula suara televisi tetangga sebelah rumah dan sesekali tawa mereka. Dari seberang meja makan kupandangi suamiku itu. Baju koko telah dipakainya. Dia telah siap untuk berangkat ke masjid. Wajahnya tak berubah, masih seperti itu... kalem. Hanya jenggotnya saja yang kian lebat. Hmmm... dia masih dengan pendiriannya. Subhanallah...

Pulang suamiku dari masjid, aku baru saja selesai mencuci piring. "Abang baru inget. Sepuluh tahun lalu abang nikahin kamu ya, dek? Pantes dari tadi seyum aja. Ngerayain yang kayak gitu2 nggak level kan, dek?! Nah, mendingan pijetin abang nih, abang capek banget hari ini." Ha ha ha... masih. Dari dulu emang manja bapak ini.

Tapi tidak saat dia datang kerumahku sepuluh tahun lalu. Aku hanya bisa mendengar percakapan hangat itu dari balik pintu kamarku. Ayahku meragukannya. Yaaah, aku rasa adalah hal yang wajar bila setiap orang tua ingin anaknya hidup berkecukupan. Dan yaaah, memang untuk hidup di jaman sekarang, pekerjaan suamiku yang tidak tetap mungkin tidak bisa mencukupi hidup kami nanti. Maklumlah, baru lulus kuliah. Tapi suamiku percaya, insya Allah, Allah akan memudahkannya.

Sempat kututup telingaku saat suara ayahku mendominasi percakapan hari itu. Aku hampir saja menangis. Aku tak mau ta’arufku sia-sia. Dan untuk tidak menjadi isteri seorang yang shalih seperti dia adalah suatu kerugian bagiku. Namun tak lama ibuku datang ke kamarku dengan terseyum dan menanyakan jawabanku. Rupanya aku menutup telingaku terlalu lama hingga aku tak menyadari bahwa saat itu suamiku tengah memberi pengertian pada ayahku dan akhirnya meyakinkan beliau.

Seminggu pertama aku dan suamiku tinggal di rumah orang tuaku. Karena rumah yang dikontrak suamiku baru bisa dipergunakan setelah seminggu itu, ya rumah ini. Selama seminggu itu dia sibuk sekali. Entah apa saja yang dikerjakannya. Dan setelah minggu itu berlalu, ada rasa khawatir di wajahnya saat ia mengatakan padaku, "Dek, di rumah itu... nggak ada apa-apanya."

Ia menatapku sendu. Sebenarnya aku dan suamiku berasal dari keluarga yang cukup berada. Hanya saja mungkin itu masalah harga diri bagi kaum lelaki, aku juga tidak begitu mengerti.

Di tengah kekhawatirannya itu kukatakan padanya, "Abang... asalkan ada ember biar adek bisa nyuciin baju abang, asal ada paku dan tali biar adek bisa ngejemur, asal ada api biar adek bisa masak buat abang, asal ada alas buat kita tidur, asal ada kain buat nutup jendela, asal ada sapu biar rumah kita tetap bersih, asal cukup air, asal bisa beli bayam dan tempe, dan selang sehari kita shaum... insya Allah, itu bukan masalah bagi adek."

Ia tersenyum, masih dengan tatapan yang sendu itu. Hhh... aku jadi sedih. Sejak ta’aruf dulu, dia telah mengatakan segala kemungkinan hidup kita nanti. Dan aku telah menyatakan kesiapanku... Insya Allah, aku sanggup menghadapi apapun... bersamanya...

Esok harinya kamipun pindah. Selama seminggu itu aku memang tak diizinkannya untuk melihat kontrakan itu. Dan saat aku sampai di sana... Subhanallah, ruang tamu mungil dengan perabotan terbuat dari rotan yang cukup untuk diduduki empat orang saja. Rak buku yang biasa kulihat di rumahku menjadi penghalang ruang tamu dengan ruang makan. Rak buku itu memang dibuatkan khusus oleh ayahku untukku. Beliau tahu hobiku membaca buku. Wah, pantas saja aku tak melihat rak itu di rumah akhir-akhir ini.

Aku melihat-lihat seluruh rumah itu. Ruang makan yang sederhana hanya tersedia dua bangku di situ dengan meja kecil yang cukup untuk makan kita berdua saja. Di kamar tidur ternyata telah ada sebuah tempat tidur, lemari baju dan meja hias. Di sebelah kamar itu ada ruang kosong, untuk kamar anak-anak kelak. Di dapur telah ada peralatan masak hadiah dari ibuku dan ibu mertuaku. Di bagian belakang rumah itu ada kamar mandi. Di luarnya telah ada sapu ijuk dan sapu lidi plus tempat sampah. Di tempat mencuci telah ada ember dan gayung.

Semua jendela telah berkordin. Belum sempat aku mengomentari rumah itu, suamiku berkata, "Dek, abang lupa beli tali sama paku buat jemuran." Hi hi hi. Aku tertawa cekikikan. "Adek kira rumahnya bener-bener kosong nggak ada apa-apanya."

"Yaaah... maksud abang gak ada apa-apanya dibandingin rumah adek."
"Hi hi hi... abang."

Dulu yang kupinta pada Allah adalah hanya seorang suami seperti abang, yang sholih, yang mau usaha, yang optimis, tawakal. Jadi di manapun kita tinggal, seperti apapun keadaanya, sekurang apapun fasilitasnya, asalkan ada abang... hidupku udah lengkap.